Gunung Tambora: Eksotisme Sisa Amuk Alam
Banyak orang menyukai wisata alam. Berpetualang di alam terbuka membuat perasaan kita segar. Salah satu wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi adalah Gunung Tambora. Bagi sebagian orang, mendengar nama gunung ini seolah membawa mereka pada kenangan pahit sejarah Gunung Tambora. Pada tahun 1815, hampir 2 abad silam, gunung ini meletus dahsyat. Menurut sejarah, letusan Tambora saat itu tergolong masuk skala tujuh pada Indeks Ledakan Gunung Berapi. Setidaknya ada 71.000 korban jiwa. Letusan tersebut digambarkan sangat dahsyat hingga mampu mempengaruhi iklim dunia secara keseluruhan. Buat ilmuwan, Tambora sangat menarik untuk diteliti aktivitas seismologis serta vulkanologisnya, sementara untuk turis, gunung ini menjanjikan pesona wisata alam yang tiada bandingannya. Untuk menikmati wisata alam Gunung Tambora, pendaki gunung bisa memilih satu di antara dua jalur pendakian. Jalur pertama berawal dari Desa Doro Mboha, sisi tenggara Tambora.
Wisatawan tak hanya dimanjakan oleh panorama alam yang memukau akan tetapi sepanjang jalan, wisatawan akan melihat deretan perkebunan kacang mede yang begitu subur. Jalan aspal sepanjang kebun kacang mede ini akan berakhir di ketinggian 1.950 mdpl. Di titik inilah pendaki akan memulai perjalanan menikmati fenomena alam Tambora dengan berjalan kaki. Biasanya, sebelum melakukan pendakian ke arah puncak Tambora, para pendaki mendirikan tenda di lokasi ini. Rute lain untuk mendaki gunung Tambora bisa dilakukan melalui desa Pancasila, sisi barat laun Tambora. Tak hanya pemandangan yang indah, Tambora juga menyajikan fenomena alam lainnya. Beragam tanaman yang bisa tumbuh di punggung Tambora seperti kopi, pohon-pohon besar dalam hutan hujan yang lebat. Pada ketinggian 1.000 hingga 2.800 mdpl, terdapat sebuah hutan yang disebut Duabangga molucanna. Tak hanya fenomena alam berupa hutan, gunung ini juga menyimpan fenomena alam lainnya, yaitu puluhan jenis burung yang indah.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa di gunung yang berlokasi di Propinsi Nusa Tenggara Barat ini memiliki setidaknya 90 jenis spesies burung. Penduduk setempat memanfaatkan keanekaragaman jenis burung ini sebagai mata pencaharian mereka. Kakatua-kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Tiong Emas (Gracula religiosa), Ayam hutan hijau (Gallus varius) serta Perkici pelangi (Trichoglossus haematodus) merupakan komoditi yang sangat dicari oleh pecinta burung hias. Sayang sekali, fenomena alam di Nusa Tenggara Barat ini terancam punah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa akibat perburuan liar oleh pendidik setempat, Kakatua-kecil Jambul Kuning terancam punah. Tak hanya itu, perusahaan penebangan yang beroperasi di Nusa Tenggara Barat sekitar tiga dekade yang lalu juga mengancam keberadaan hutan hujan yang ada di kawasan Tambora. Tak hanya burung dan hutan, Tambora juga merupakan istana yang telah dikukuhkan sebagai cagar alam oleh pemerintah. Di dalamnya terdapat beragam spesies hewan hutan seperti rusa (Axis axis), kerbau (Bos bubalus), babi hutan (Sus scofra), kelelawar (Eptesicus fuscus), rubah terbang (Pteropus argentatus) serta beragam spesies reptil. Di balik sisa amuk alam Tambora, tersimpan keindahan yang dahsyat. Anda tentu perlu datang ke Nusa Tenggara Barat untuk menikmati indahnya Gunung Tambora.
Tags: fenomena alam, gunung tambora, nusa tenggaraPosted in Tempat Wisata | No Comments »
